Pendakian Gunung Lawu via Cemoro Sewu: Rasanya Kaki Mau Patah

May 01, 2019

View Pos 4
Gunung Lawu - Walaupun bukan pendaki berpengalaman setiap orang yang mendaki gunung disebut pendaki dong ya? Ya meski hanya tiga kali setidaknya sudah ku takhlukkan Puncak Mahameru. Sudah hampir setahun tidak mendaki dengan alasan menjawab pertanyaan, "Sebelum bulan puasa mau kemana?" Yang sebenarnya bisa dijawab dengan singkat," Di rumah saja."

Singkat cerita dipilihlah Gunung Lawu dan dengan penuh drama akhirnya jalur Cemoro Sewu yang akan ditempuh bersama.Karena salah satu teman tidak punya banyak hari libur, menurut informasi yang bertebaran di internet jalur Cemoro Sewu-lah yang paling cepat tapi dengan konsekuensi tidak ada bonus, jalan nanjak terus.

Di mulai tanggal 25 April pagi berangkat dari terminal Blitar menuju Nganjuk naik bus Kawan Kita, ada bapak-bapak kecopetan, kasihan mau ke Kediri minta uang tambahan ke anaknya untuk memperbaiki motor dompetnya malah raib. Dari Nganjuk niat awal turun Maospati tapi karena sudah malam akhirnya turun terminal Tirtonadi, Solo. Naik bus mahal (patas) malah mabuk kendaraan, pusing kliyengan. Sampai Solo mau ke basecamp Cemoro Sewu sudah tidak ada kendaraan umum juga, jurus andalan masa kini pun dikeluarkan, taksi online. 

Tiba di basecamp tengah malam, tetap simaksi dan melakukan perjalanan malam, camp di pos 1 tapi ternyata salah, belum sampai pos 1. Oh iya tiket Rp15.000 per orang. Berempat kami mendirikan tenda,menghangatkan badan dengan ngopi lanjut tidur.
Pos 1
Tanggal 26 April, bangun pagi di gunung adalah fana. Setelah sarapan sekitar pukul 10.00 WIB kami melanjutkan pendakian. Sampai di pos 1 rencana baru dibuat karena air minum hampir habis karena yang dibawa kurang, warung pun tutup dan sumber air masihsangat jauh. Tas dititipkan di warung yang ternyata tutup, berharap tidak dikunci, gagal. Rencana lain, camp di pos 2 bawa barang seperlunya dan sampai puncak langsung turun kalau kata para pendaki sih namanya tik tok. Nah, itu dilakukan sore itu juga atau nunggu tengah malam? Kalau lanjut takutnya tidak mendapat tempat di warung Mbok Yem yang dapat menampung 30 orang.
Pos 2

Akhirnya diputuskan untuk menunggu tengah malam yang nyatanya berangkat subuh sambil mencari kesempatan untuk meminta air minum kepada rombongan pendaki lain. Membawa P3K, air minum,botol kosong dan beberapa snack, pendakian di lanjutkan.
Pemandangan pagi di pos 3

Tanggal 27 April, masih tertatih, lapar, kemarin mau masak gak ada air. Makan mie mentah juga takut perut sebah. Salah satu teman rada gak enak badan.Perlahan tapi pasti sampai di pos 3 langit mulai berubah warna. Dalam hati aku berkata," Tak apa melihat matahari terbit dari puncak, yang terpenting saat ini adalah sampai pos 5 dan mengambil air di Sumber Derajad lanjut makan pecel di warung legendaris Mbok Yem."
Pos 3 saat sore (foto diambil saat turun)
Setelah sampai di pos 5 jalan mulai bonus, pemandangan rumput dan bunga entah apa namanya. Sedangkan edelweiss yang sejak dari pos 1 menghiasai belum berbunga satu dua mulai kuncup. Istirahat sejenak, rebahan gak taunya aku ketiduran.
Pecel Lauk Telur Ceplok Mbok Yem
Terlihat ramai warung Mbok Yem, dalam hatiku," Wayahe, wayahe." Sarapan nasi pecel telur ceplok di warung pecel tertinggi di Indonesia. Selain akhirnya makan nasi, bangga juga sampai di warung Mbok Yem. Rehat sejenak, motret-motret bunga. Lanjut ke Puncak Hargo Dumilah. Alhamdulillah
Puncak Hargo Dumilah

Turun Gunung

Naik tidak ada bonus, belum tentu turun tidak capek. Benar memang tidak banyak minum tapi kaki rasanya mau patah. Katanya caraku memijakkan kaki keliru, harusnya rada miring tapi malah capek gak sampai-sampai tenda rasanya. Ada bapak porter turun lari, dapatlah inspirasi tidak begitu terasa capek dan cepat sampai, satu tangga satu pijakan kaki. Tak sekencang bapak porter tapi cukup mengurangi capek. Tapi tetap hati--hati!

Entah terlambat melakukan trik itu, atau medannya yang membuat bagaimanapun kondisi tubuhku akan merasakan itu atau entahlah. Sesampai di pos 2,di tempat tenda kami berdiri kami masak. Semua bahan dimasak dengan tujuan mengurangi beban, selain juga lapar sih. Tempe goreng, jamur goreng dan tumis sawi dengan wortel dimakan dengan nasi liwet.

Itu menu makan malam minggu. Selesai makan, packing, turun menuju basecamp.Entahlah pukul berapa yang jelas adzan isya' sudah berkumandang sebelum makan. Belum ada separuh perjalanan terdengar suara gemuruh guntur dan terlihat cahaya kilat. Dalam canda aku berkata," Wah, kok mau hujan, malam minggu doa para jomblo ini." Belum lama aku bergurau hujaun turun.

Perjalanan berhenti, sibuk memasang mantel carier dan memakai mantel kresek selain baju mengamankan senter kepala punya bapak, takut konslet atau apam takut juga dimarahin. Senter yang cahanyanya mulai redup dan sudah sangat redup aku pegang, ku amankan di dalam lindungan mantel.

Sangat jarang berhenti, patas sekali perjalan turun dari pos 2 ini. Langkah makin terseok-seok, rasanya lutut tak bisa lagi ku gambarkan, mudahnya, sakit. Hujan makin deras, tiba-tiba tas terasa berat dan sepertinya masuk angin. Aku mencoba terus untuk bersendawa. Terus berjalan, dalam perasaan baru terbesit jangan-jangan ada sesuatu yang mengganggu. Ku bacakan serangkaian bacaan tahlil pendek. Dua kali, tiga kali, beban di pundak sudah berkurang dan perut sudah enakan, tidak lagi aku bersendawa. Hujan hampir reda,belum sampai juga basecamp tapi pos 1 sudah terlewati, sempat istirahat sebentar.

Sampai di basecamp Cemoro Sewu hujan sudah reda, kami semua bersih-bersih ganti baju. Sudah berganti hari entah jam berapa aku lupa yang jelas tanggal sudah 28 April. Aku memutuskan untuk mandi lanjut ganti baju.Airnya dingin-dingin segar.

Alhamdulillah sudah sampai, tinggal perjalanan pulang. Temanku gelisah karena pukul 07.00 WIB harus masuk kerja. Singkatnya dibantu orang basecamp kami bisa mendapatkan kendaraan untuk ke terminal Maospati. Menyedihkan! Tenda ketinggalan. Masih terus menghubungi pihak basecamp barang kali melihat bisa minta tolong untuk diamankan. (Sekarang tidak tau bagaimana, temanku ku tanya jawabnya gampang).

Dapat bus ekonomoi Mira menuju Nganjuk, dapat tempat duduk depan,di belakang sopir, bisa tidur sampai ngowoh. Pun dari Nganjuk ke Blitar naik bus Kawan Kita lagi, duduk paling belakang dekat pintu. Ngowoh-ngowoh sambil waspada kalau kalau ada copet.

Sampai rumah pukul sekitar 09.00 WIB temanku ijin masuk kerja terlambat.

Kesimpulan

  • Management waktu itu penting, bila memang tidak memiliki waktu yang banyak ambil keputusan yang tetap mementingkan pada hematnya waktu.
  • Logistik harus memadai, yang penting itu air.
  • Kalau mau minim logistik mendaki hari sabtu minggu saja, warung dari pos 1 sudah buka. Tapi jangan untuk air. Lengkap lebih aman.
  • Fisik, kesehatan tetap nomor satu.
  • Cemoro Sewu tidak ada bonus, yang ada tanjakan, tanjakan, dan tanjakan. Pohon,pohon,dan pohon. Aku belum pernah lewat Candi Cetho tapi menurut estimasti di internet cepat Cemoro Sewu 3 jam. Tapi setelah yang aku alami mungkin bisa lebih cepat Candi Cetho "mungkin" atau sama.
  • Tetap jaga diri, jaga sikap dimanapun berada.

You Might Also Like

0 Comments