Bermalam Minggu di Ranu Kumbolo

March 07, 2018

Ini adalah tulisan yang sangat terlambat kalau teman-teman di instagram sering sebut latepost. Tapi enggak deng, tidak ada kata terlambat untuk menulis dan ditulis. Pernah lihat film 5 CM? Tampaknya aku korban film itu. Tapi tak serta merta setelah nonton film lalu berangkat ke sana. Film itu tahun 2012 sedangkan aku baru berkesempatan ke Ranu Kumbolo tahun 2015. Cukup lama untuk penanggulangan korban.

Ini Candu
Tidak punya teman yang suka mendaki, ada sebenarnya tapi tidak ada keinginan untuk mengajak aku. Karena memang bukan teman dekat. Aku hanya berbicara dengan diri sendiri,"Kapan bisa ke Puncak Mahameru ya?!" dalam hati.

Akhirnya sekitar bulan Juli aku lupa tanggalnya ada barengan dari satu wilayah. Kenalan dari facebook yang ternyata bekerja di BPBD Blitar, yang kantornya 7 km-an dari rumahku. Masih sekecamatan, kecamatan Wlingi. Namanya Eko, tapi orang dan dia sering memperkenalkan diri sebagai Balor. Aku juga tidak paham apa artinya. Ternyata dia juga ngajar PMR di SMAN 1 Garum, Blitar. Eh, entah PMR atau ekstra kulikuler pecinta alam aku lupa.

Berangkat setelah isya', berkumpul di kantor BPBD jumat malam. Aku masih belum tau siapa saja yang ikut, yang aku tahu perempuan dua anak sekalian aku. Sebelum berkumpul mas Balor menyuruh dan menyarankan beberapa barang kebutuhan yang harus dibawa, karena aku belum pernah sama sekali ke gunung meski aku anak gunung (baca: orang desa). Dari beras sampai kaos kaki, dari makanan sampai baju ganti.

Dia menceritakan kalau di Ranu Kumbolo itu dingin, suhu mencapai -5 derajat celcius. Sampai-sampai ia membawa baju ganti tiga. Otakku menerima informasi bahwa harus membawa baju yang tebal kalau tidak mau kedinginan.

Sungguh pengalaman yang tak akan terlupakan, karena aku keberatan beban. Bukan, bukan berat badanku, tapi carier yang ku pinjam dari tetanggaku. Semua serba rangkap tiga. Dari baju sampai jaket. Bisa kamu bayangkan gimana gedenya tas karier kalau bawaanya kayak gitu.

Sudah berkumpul 5 orang, 2 perempuan 3 laki-laki. Dunia itu sempit, perempuan yang satu itu teman sepupuku. Laki-laki yang satu teman dekat temanku, dan dia yang memboncengku. Berangkat sekitar pukul 20.00 WIB dari kantor BPBD Blitar mampir SPBU Pandean menuju Ranupani lewat Tumpang, Malang. Sampai pukul berapa aku kurang jelas mungkin sekitar pukul 00.00 WIB. Setelah parkir, kami mendirikan tenda di lapangan untuk istirahat. Sebelumnya masak dulu, belum makan. Konyolnya lagi, aku bawa gelas bahan kaca. Lupa bawa sendok, sendok sih gak masalah banyak ranting bisa jadi sumpit alami. Ini sejarah untukku.

Keesokan harinya, singkatnya setelah pendaftaran dan briefing pengecekan barang ada yang kurang, sleeping bag waktu itu minimal 5 orang bawa 3. Kami cuma bawa 2, akhirnyan kami nyewa.
Setelah sarapan, kami berangkat. Aku dengan setelan baju biasa ala kadarnya dengan sepatu sepunyanya, sepatu sneakers bekas teman. Menggendong tas karier yang isinya baju selemari sebelum pos 1 sudah tak kuat, sungguh terlalu, terlalu merepotkan.

Akhirnya temannya temanku, Yani membawakan carierku. Kami bertukar tas. Mengingat kejadian ini aku senyum-senyum malu sendiri. Belum sampai Ranu Kumbolo, masih menuju pos 2 sol sepatu kiriku terbuka, rusak. Dan tidak bawa sendal. Ya aku coba ku tali dengan tali rafia yang ku temukan dijalan. Semakin lama semakin parah, pada akhirnya aku buang sekalian solnya. Kalau dilihat masih memakai sepasang sepatu. Tapi rasanya di kaki nyeker sebelah.

Dari pos 3 aku masih memelihara rasa sungkan dan sabar karena ini masih perjalanan berangkat. Jalannya menajak dan berdebu. Walau tak lama tapi apa mau dikata, aku jadi beban mereka.
Sampai di Ranu Kumbolo hampir maghrib, kami mendirikan tenda, mencari air dan memasak. Menu malam itu mie instan, sarden dan nasi. Minumnya nutrisari hangat. Aku sudah bisa tersenyum bercanda lagi, sedikit dapat menyingkirkan sedih dan sungkan.

Ranu Kumbolo Tampak dari Pos 4

Suhu minimum disana -5 sampai -20 derajat celsius. Tapi yang terjadi pada kami adalah gerah. Karena sleeping bag rangkap 3. Asli, baju gantiku banyak yang tak terpakai. Hanya merepotkan teman saja, baru kenal lagi. Duh...

Pagi tiba, waktunya berfoto ria. Sungguh indah sekali danau Ranu Kumbolo dan mata hari terbit. Karya Tuhan yang keren. Tapi aku tak banyak foto, malu.

Saat kebelet BAB atau BAK jangan sedih, ada tempatnya, tidak seperti diperjalanan harus ngumpet di semak-semak. Ya, WC seperti jaman dahulu, adal lubak kotak dan kotoran langsung jatuh. Tidak ada air jadi sebelum masuk WC ambil air dulu dalam botol secukupnya dari danau tak lupa bawa tisu. Sekarang tisu basah tidak diperbolehkan lagi. Dengar-dengar juga WC sudah lebih baik lagi, belum tau sih seperti apa wujudnya.

Pandu-Balor-Aku-Nur-Yani (dari kiri ke kanan)
Tidak berlama lama, setelah sarapan kami pulang. Yani dan  mas Balor yang bekerja di BPBD Blitar masuk kerja jam 6 petang. Sungguh pengalaman pertama mendaki gunung meski tak sampai puncak yang tak terlupakan. Dapat teman baru yang baik hati. Ini sejarah bagiku, pelajaran untuk membawa seperlunya saja. Malam minggu di Ranu Kumbolo yang nano nano rasanya.

You Might Also Like

0 Comments